Milenial Lebih Sering Mikir Resign

Telah menjadi siklus yang pasti, seseorang akan mengalami masa kanak-kanak, sekolah, kuliah, bekerja, dan menikah didalam hidupnya. Setiap fase yang dilalui, ternyata akan menjadi fase yang sangat menentukan di masa depan. Misalnya, saat sekolah atau kuliah, pengambilan jurusan akan sangat memengaruhi bidang kerja yang nantinya akan digeluti. Namun, memilih pekerjaan ternyata memang serumit memilih pasangan hidup. Bahkan, milenial dianggap sebagai “kutu loncat” soal bekerja, sebab dari data yang dirilis Forbes, 43 persen milenial resign di bawah dua tahun.

Data ini sedikit banyak menunjukkan bahwa mental milenial tak sekuat mental generasi sebelumnya. Milenial dianggap bukan petarung, meskipun milenial suka sekali hal baru dan hal yang menantang, namun mereka juga tak suka dengan suasana kerja yang engga asyik lagi. Misalnya, iklim pekerjaan yang sudah tak sehat, salary yang kecil, serta rutinitas kerja yang membuat milenial bosan, menjadi alasan mereka ingin resign. Namun, melihat kenyataan mencari pekerjaan saat ini cukup sulit, dengan tingginya angka pengangguran terbuka, mau engga mau mereka harus bertahan dalam suasana yang sudah membosankan itu.

Milenial menjadi generasi yang juga gamang, melanjutkan kerja sudah engga lagi semangat, tapi kalau resignpun engga tahu harus kemana. Bukan karena kompetensi yang mereka miliki kurang, tetapi sekali lagi persoalan mental yang engga cukup kuat untuk bersaing. Akhirnya, banyak milenial yang terjebak dalam zona nyaman namun juga terjebak dalam zona kebosanan.

Dialektika soal milenial engga mau pusing, sementara kreativitasnya yang banyak, juga menjadi dua sisi mata uang yang engga bisa dipisahkan. Sebab senang pada hal-hal instan tadi, milenial menjadi generasi yang malas untuk berpikir karena teknologi juga telah memanjakan mereka. Dengan kemudahan itulah milenial juga jadi malas mikir apalagi mikir sampe kriting. Tetapi, milenial juga sebetulnya memiliki kreativitas yang engga ketulungan. Asalkan digali dengan tepat dan disalurkan pada wadah yang tepat pula. Suasana kerja yang engga asyik itu, bisa membuat kreativitas milenial tersumbat dan menjadi anak milenial yang menye-menye alias malas mikir tadi.
Akhirnya milenial menjadi generasi yang cukup gamang namun unik. Kedua sisinya ada pada mereka.