Parasite (2019)

Apakah film Parasite yang digambarkan secara realisme oleh sutradara Bong Joon-ho adalah murni keresahannya tentang kritik sosial ekonomi yang terjadi di sekitar kita? Atau memang sesungguhnya itulah kehidupan Korea Selatan yang coba digambarkan dalam film tersebut? Itulah pertanyaan yang pertama terbersit setelah film tersebut usai. Lanjut pertanyaan kedua sebelum melangkah masuk kedalam cinema yakni, Parasite seperti apakah yang akan digambarkan oleh Bong Joon-ho?

Film dimulai dari suasana dalam rumah yang sempit di ujung sebuah gang, yang ternyata itu adalah ruangan semi basement yang dijadikan tempat tinggal oleh keluarga Ki-taek (Song Kang-ho) dan ketiga penghuni rumah lainnya yakni Choong Sook (Jang Hye-jin) istri, serta kedua anaknya Ki-woo (Choi Woo-shik) dan Ki-jeong (Park So-Dam).
Dari dalam rumah, mereka kadang-kadang memanfaatkan kondisi di luar seperti mencari Wifi gratisan sampai membiarkan asap fogging masuk memenuhi ruangan rumah mereka demi mendapatkan manfaat asap fogging yang salah satunya bisa membunuh serangga.

Demi menyambung hidup untuk makan, satu keluarga ini rela menjadi tukang melipat kardus pizza secara borongan. Kondisi itu terjadi karena Ki-woo dan Ki-jeong hanyalah tamatan sekolah yang ya bisa disetarakan dengan SMAlah kalau di Indonesia.

Setelah masuk bagian awal cerita, pertanyaan ketiga lanjutan setelah dua pertanyaan di atas muncul, “Parasite yang digambarkan itu apakah seperti parasite pada umumnya, yakni merugikan apa yang ia hinggapi dalam hal ini tentunya film parasite, yang coba saya tebak ialah keluarga ini adalah keluarga miskin yang merugikan lingkungan sekitar dan bahkan negara karena saking miskinnya”?

Jawabannya ada pada apa yang sudah dicapai oleh Parasite sebagai pemenang dalam gelaran salah satu festival film paling tua di dunia yakni peraih Palem Emas, artinya ya kali seorang Alejandro González Iñárritu dan rekan juri festival de cannes lainnya menilai sesederhana itu, karena seperti yang pecinta film tahu bahwa karya-karya film Alejandro Iñárritu kebanyakan menampilkan sebuah karya yang epik. Epik dalam artian dari segi cerita, penataan, pengambilan, scoring, hingga film genre yang dibuat non-genre, intinya tingkat kesulitan penilaiannya ada pada seberapa ‘nyeni’ karya seni film ini dibuat.

Secercah harapan peluang menyambung hidup datang dari teman Ki-woo (Park Seo-joon) dengan memberi Ki-woo kesempatan untuk dapat bekerja sebagai guru les, dengan kepercayaan yang diberikan kepada Ki-woo, (Park Seo-joon) juga memberi pesan kepada Ki-woo untuk dapat menjaga Da-hye, meski pada akhirnya kepercayaan hanya berlaku dihadapan muka teman.

Cerita demi cerita dirangkai epik dengan didukung peran yang powerfull oleh setiap pemeran dalam film Parasite (2019)

Singkat spoiler, setelah resmi Ki-woo bekerja sebagai guru les akhirnya satu persatu kejadian demi kejadian dimainkan tersusun secara sistematis dalam sebuah rumah keluarga Mr. Park (Lee Sun-kyun), pertanyaan ketiga saya tadi akhirnya terjawab, mengapa Parasite diganjar Palem Emas. Lebih serunya lagi, kesenjangan sosial ekonomi yang konsisten digambarkan dalam film tersebut, dimana scene satire terjadi seperti orang miskin identik dengan bau yang ngga mengenakan, meskipun difasilitasi kemewahan orang kaya.

Film bergenre Art House Drama dengan balutan tragicomedy dan thriller yang tanpa peran mencolok seperti Haji Bolot untuk tertawa atau harus ada Jason untuk takut. Karena dengan peran maksimal yang dimainkan oleh para pemain sudah dapat membuat penonton tertawa segar dan merinding keringat dingin. Sehingga apa yang disampaikan dapat dengan mudah diterima oleh penonton.

GACON : 8.8/10

Editor : Dhea Lintang Wengi