Pay Later : Fitur Bahagia Atau Bencana

Satu lagi fitur baru bagi kaum milenial adalah fitur pay later. Layanan dengan berbahasa Inggris ini, yang jika dibahasakan dalam bahasa Indonesia, yakni “bayar nanti atau bayar kemudian,” mampu menarik perhatian kaum milenial untuk menggunakannya. Pay later merupakan sebuah fitur yang secara sederhana kita kenal dengan “berhutang” alias “ngebon” alias “kasbon.” Tentu fitur ini akan sangat mendukung gaya hidup milenial yang cenderung konsumtif ini. Saat ini, fitur pay later sudah dapat dinikmati pada aplikasi gojek, ovo, bahkan traveloka. Saking digandrungi oleh para milenial, disebutkan fitur tambahan pay later ini akan merambah ke aplikasi lainnya.

Seperti yang disebutkan di awal, pay later merupakan skema baru “berhutang” yang dikemas dengan tingkat efisiensi tinggi. Misalnya untuk menikmati layanan pay later pada aplikasi gojek, pemilik akun hanya perlu mengupload KTP dan nomor rekening bank miliknya. Saldo yang ditawarkan cukup menggembirakan, yakni hingga Rp.500.000.; sementara untuk traveloka, limit kredit yang ditawarkan cukup fantastis yakni hingga sepuluh juta rupiah. Agaknya fitur ini membawa angin segar sekaligus membawa bencana baru bagi milenial. Dengan kemudahan yang ditawarkan ini, gaya hidup berhutang justru akan semakin diminati kaum milenial.

Sebetulnya, fitur pay later bisa sangat membantu saat digunakan untuk urusan yang bersifat urgent. Misalnya, pay later yang ditawarkan oleh traveloka bisa dimanfaatkan saat kita secara mendadak harus terbang dan mendatangi sebuah kota atau negara, fitur pay later akan sangat membantu urusan bisnis atau urusan keluarga yang mendesak. Selain itu, redaksi gacon juga berpendapat, pay later sangat dibutuhkan oleh para worker yang berada di kota-kota besar aka Jakarta—yang dengan tingkat stres tinggi—untuk memberikan kemudahan liburan dan refreshing acapkali merasa mulai bosan dan depresi. Sehingga pay later akan membantu perjalanan liburan meskipun pada tanggal-tanggal kritis.

Namun, kebablasan menggunakan fitur ini, milenial juga akan semakin dirugikan. Secara tidak sadar, pengguna bisa menggunakan pay later untuk memenuhi ongkos gaya hidup yang mahal. Semisal memaksakan diri untuk terus-menerus makan enak di cafe, pergi ke pusat perbelanjaan lalu berbelanja item-item yang diinginkan—bukan yang dibutuhkan—hingga memenuhi gengsi di depan kawan-kawan sejawat dan rekan kantor untuk mentraktir di tempat makan mewah. Al hasil, gaya hidup berhutang bagi milenal bukan lagi menjadi momok yang menakutkan, akan tetapi menjadi hero yang mampu memberikan kebahagiaan hidup. Alih-alih dimanjakan, tau-tau tagihan mencapai belasan juta berikut bunganya di akhir bulan. Duhhhhhh~~

Editor : Dhea Lintang Wengi