Seberapa Greget Kamu di Fase Quarter-Life Crisis

 

Mau tidak mau, suka atau engga suka, setiap orang pasti akan mengalami sebuah fase krisis. Terlebih di saat memasuki akhir usia 20an dan menginjak awal 30. Bagi seorang perempuan, usia 30 menjadi usia yang rentan. Termasuk bagi mereka yang belum menikah dan belum memiliki pasangan hidup. Di usia ini, pertanyaan-pertanyaan yang menggemaskan sekaligus bikin jengkel, akan sering dilontarkan oleh orang sekitar, “Kapan nikah?” “Memang calonnya mana?” Pertanyaan yang lebih seram dari sosok sundel bolong, menjadi mimpi buruk bagi kaum hawa yang belum menikah, sementara usia sudah menginjak 30an.

Di usia tersebut, setiap orang memasuki fase Quarter Life Crisis. Pada zona inilah, seseorang tak hanya merasa galau tentang putus cinta, akan tetapi merasa galau dan merasa : betapa hidup sungguh kampret dan menyebalkan.
Quotes ternama sudah menasihati kita, bahwa hidup memang seringkali tak sesuai dengan ekspektasi. Namun, saat seseorang masuk pada fase krisis, segala pemakluman rasanya sulit diterima. Meskipun, pada fase krisis ini, seseorang juga akan mengeluarkan pertahanan dirinya sekuat tenaga, dengan meyakini bahwa hidup baik-baik saja dan bahagia. Padahal, kegalauan menerpa begitu dahsyatnya.

Istilah Quarter Life Crisis, pertama kali diperkenalkan oleh peneliti asal Amerika pada tahun 2001, yakni Alexandra Robbins dan Alby Wilner. Fase ini menjadi masa awal seseorang harus rela melepaskan ‘zona nyaman’nya dan beralih pada real life sebagai orang dewasa yang cenderung telah matang. Terlebih, usia 30 tahun, menjadi tolok ukur sukses atau tidaknya seseorang, terlebih jika ia seorang perempuan.

Menyoal Quarter Life Crisis ini, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa seseorang pada rentang usia 25 hingga 33 tahun mengalami fase krisis sebanyak 75 persen. Beberapa tanda seseorang memasuki fase ini adalah dengan timbulnya pertanyaan : Apa yang sudah dilakukan, dicapai, dan belum dicapai? Pertanyaan yang kerap kali mampir di dalam pikiran, tentu membuat tidak nyaman. Terlebih misalnya, jika dirinya membandingkan pencapaian yang dilakukannya tak sebanding dengan kesuksesan yang sudah diraih oleh orang lain. Hidup yang dialaminya akan terasa sangat brengsek dan menyebalkan.

Ciri lain bahwa sahabat gacon sedang memasuki fase ini, adalah seringkali melontarkan jokes seperti “Kita kan sepantaran” atau “Iya aku masih 17 kok, seumuran.” Hal ini menandakan bahwa dirinya merasa tidak nyaman berada pada kumpulan orang yang lebih muda darinya. Tak ingin terlihat dan dianggap tua, biasanya mereka melontarkan jokes demkian.
Selain itu, pada fase ini seseorang juga akan mengubah penampilan mereka yang which is cenderung telihat lebih dewasa. Mereka akan mulai menghindari warna-warna cerah seperti yang biasa dipakai oleh anak anak ABG.

Menjadi tua ternyata memang menyeramkan. Terlebih bagi kaum hawa. Jika sahabat sedang mengalami fase ini, cobalah untuk kembali memfokuskan diri pada tujuan dan target. Serta tak perlu takut bila memang harus mengubah hidup 360 derajat. Atau mungkin, sahabat juga jarang liburan. Sesekali carilah waktu liburan dan lakukan therapy mirroring, yang akan membantu kita untuk lebih mengenal diri kita sendiri.
Ingat, jangan menghindar! Karena setiap orang pasti akan mengalami fase ini. Saatnya marah, marahlah. Hidup memang kerap kali brengsek. Namun, setelah usai mencaci maki, kembalilah untuk memperjuangkan kebahagian di tengah hidup yang memang brengsek ini.