Wik-Wik Isn’t Like a Fairytale

Menjadi salah satu isu yang dibawa oleh gerakan feminisme radikal, yakni reaksi atas kultur seksisme atau yang kita kenal sebagai budaya patriarki. Pertangahan tahun 1960an, di Amerika Serikat industri pornografi dan kekerasan seksual tumbuh subur atas superioritas laki-laki. Berdasarkan hal-hal di atas, feminisme radikal juga menolak pernikahan sebagai legalitas hubungan antara laki-laki dan perempuan. Mereka berpendapat, bahwa pernikahan hanya semakin melegalkan superioritas laki-laki.

Membaca gagasan di atas, agaknya menjadi salah satu advice kepada yang sedang merencanakan sebuah pernikahan, untuk menyadari betul bahwa pernikahan ngga melulu soal kebahagiaan dan urusan wik-wik. Bagi mereka yang sedang dimabuk cinta dan berencana melanggengkan hubungannya dengan menikah, sepatutnya memahami dan mempelajari lebih dalam, bahwa sebuah pernikahan yang digadang-gadang menghadirkan kebahagiaan yang paripurna itu, tentu memiliki kisah-kisah tragis yang sedari awal sudah harus diantisipasi.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, menunjukkan bahwa indeks kebahagiaan lebih tinggi dimiliki oleh orang yang belum menikah aka lajang, yakni sebesar 71,53 persen. Mereka yang belum menikah disinyalir memiliki keleluasaan untuk berteman dan bersosialisasi dengan orang banyak, serta memiliki kesempatan untuk memilih keinginannya secara pribadi dengan bebas.

Kehidupan pasca pernikahan isn’t like a fairytale. Kisah-kisah pilu terjadi dan dibutuhkan didalamnya. Misalnya, kamu akan merasa tersiksa, saat pernikahanmu tak juga ‘menghasilkan’ seorang anak. Meskipun hubunganmu dan suami sebetulnya baik-baik saja, sementara ibu dan ibu mertuamu selalu bertanya kapan punya anak? Sementara yang sudah punya anak, akan dihadapkan dengan pembagian peran mengasuh anak sementara keduanya sama-sama bekerja. Belum lagi saat suami dan istri berbeda pendapat dan keduanya sama-sama dengan keegoisannya masing-masing. Kisah tragis di televisi menunjukkan bahwa menikah sangat ngga bahagia, suami bunuh istri atau istri bunuh suami. Alasan terbesar dari bunuh membunuh tersebut biasanya berlatar belakang soal ekonomi. Ekonomi yang ngga baik, akan membawa malapetaka dalam sebuah pernikahan. Lalu apakah sebuah keluarga dengan ekonomi yang mapan akan membawa kebahagian? Jawabannya belum tentu juga.